Sinopsis CAMP ROCK Novel "The Junior Novel"
“Mitchie, bangun!” perintah ConnieTorres sambil melangkahkan kaki di antara tumpukan baju dan CD dilantai kamar tidur anak perempuannya yg berumur empat belas tahun itu. “Ini hari terakhir sekolah!” Dia bertepuk tangan dengan ceria sebelum menghilang di koridor.
Mitchie menemukan sebuah CD berlabel MUSIK MITCHIE dari laci meja disamping tempat tidurnya dan memutar CD tersebut. Seketika, irama sebuah lagu pop memenuhi ruangan. Terdengar suara vocal yang tak lain adalah suara Mitchie Torres sendiri. Kemudian dia menarik rambut cokelatnya yang panjang ke belakang, lalu ikut menyanyikan lagu yang sudah dihafalnya itu. Lalu dia membuka lemari pakaian dan mengintip kedalam.
Pakai baju apa, ya? Kemudian dia menyambar sebuah celana panjang selutut, lalu mencobanya. Lebih baik, tapi tidak sempurna. Lalu dia melihat sebuah legging, dan terlintas sebuah ide di benaknya. Rok, legging, t-shirt nggak terlalu formal, tapi jadi pakaian sempurna untuk hari akhir sekolah.
Ketika memakai sebuah kalung panjang, Mitchie tiba - tiba puny ide lain. Cepat cepat Mitchie beranjak dan menyambar sebuah buku jurnal. Di bagian depannya terpampang huruf-huruf besar bertuliskan “LAGU – LAGU MITCHIE.” Cepat – cepat dia menuliskan sebait lirik pada halaman yang kosong. Mitchie tersenyum puas dengan lirik barunya. Setelah menaruh jurnal itu, dia keluar dari kamar sampai menari, melewati koridor depan kamarnya, untuk menuju dapur. Di sana ibunya telah menyiapkan sarapan. Mitchie menghempas pantatnya ke kursi, lalu mulai melahap omeletnya. Sementara itu di televisi, sebuah acara hiburan yang membahas kelakuan bodoh Shane Gray- seorang musisi ganteng.
“Sang pop star yang fenomenal, Shane Gray,” kata reporter televise itu, “mungkin kali ini telah kelewat batas ketika menghancurkan set video klip terbarunya hanya gara-gara seseorang memberinya susu non-lemak, bukan minuman kesukaannya. Kelakuannya menyebabkan labelnya mengalami kerugian ribuan dolar, dan Shane bakal kehilangan kontrak rekamannya.” Mitchie menghela napas. Shane Gray memiliki segalanya. Mengapa dia ingin menghancurkan semua itu?
“Maksudnya sudah sangat jelas,” reporter itu melanjutkan. “Dia harus memperbaiki perilakunya. Dan memberikan kesempatan pada Shane, tur musim panas Connect Three telah dibatalkan.” Repoter itu hamper selesai dengan laporannya saat ibu Mitchie duduk di kursi samping Mitchie. “Lihat apa yang Ibu temykan di tempat buah dalam lemari es,” kata Connie, sambil meletakkan sebuah buklet mengkilat yang berwarna-warni ke atas meja.” Brosur Camp Rock. “Hmmmm, lihat itu!” kata Mitchie, pura-pura kaget. Dia menyuapkan segarpu omelet ke dalam mulutnya. Jadi mungkin petunjuk yang telah disebarkannya soal Camp Rock musim panas ini tidaklah sehalus perkiraanya. Tapi kalau dia ikut mimpinya akan bisa menjadi kenyataan.
Semangat Mitchie mengendor ketika Connie berkata “ Ibu tahu kamu ingin ikut kemah ini tapi kita tidak bisa melakukannya sekarang karena ayahmu baru saja memperbesar toko & Ibu baru saja memulai bisnis catering, dan … Ibu minta maaf.”
Koridor dipenuhi oleh semangat hari terakhir sekolah. Para siswa saling bercanda sambil melemparkan buku catatan lama, kertas ujian, dan kertas ulangan ke tempat sampah yang sudah luber isinya. Mitchie membuka lokernya dan menemukan sampahnya selama setahun penuh, remasan kertas, pensil yang sudah jelek, pulpen bocor, buku pelajaran semuanya berserakan dengan posisi yang aneh.
Dia menghela napas dan mulai melempar berbagai macam barang ke tempat sampah. Sebuah brosur Camp Rock menarik perhatiannya. Dia menghela napas lalu melemparkannya ke tempat sampah. Mitchie masih sibuk bersih-bersih selama beberapa menit berikutnya saat Shierra, seorang cewek jangkung berkacamata, berjalan lalu membuka loker di sebelah loker Mitchie. Shierra adalah satu-satunya teman yang dipunyainya.
Sayangnya, m impi Mitchie akan musim panas yang dipenuhi music rock harus digantikan dengan kenyataan pahit untuk bekerja menjadi pelayan. Sekalipun bukan liburan yang mewah tapi setidaknya itu akan membuat sibuk, dan mudah-mudahan menghasilkan tambahan uang saku.
Namun, dia masih kecewa ketika sampai di rumah sepulang kerja hari pertamanya. Aroma burger menyebar ke segala penjuru rumah. Sambil mengikuti aroma itu, Mitchie berjalan ke halaman belakang. Ibunya menyapanya sambil menjulurkan sebuah piring plastic yang berisi sebuah burger lezat yang sangat besar. “Burger Torres kita yang terkenal di dunia,” kata Connie. Ayah Mitchie, Steve, melambaikan dari tempatnya berdiri di depan panggangan. “Ukh.., kali ini aku nggak, dech,” kata Mitchie merasa agak mual. “Baiklah,” kata ayahnya, kedua matanya berkilat meskipun melihat tampang sedih anak perempuannya. “ Aku nggak tahan lagi, Bilang saja padanya.”
“Bilang apa?” Tanya Mitchie kebingungan. Ibunya tersenyum lebar. “Kau akan pergi ke Camp Rock!” serunya. Mulut Mitchie ternganga lebar sambil memandang kedua orang tua nya tidak percaya. “Sebenarnya,” ibunya mengoreksi, sambil tersenyum dan duduk di meja piknik, ‘kita berdua yang akan pergi. Katering Connie akan berkemah.”
“Usaha Ibu agak sepi selama musim panas,” dia menjelaskan. “Ini adalah pekerjaan tetap, dan kau bisa ikut kemah dengan potongan harga.Tapi kau harus membantu di dapur.”
Mitchie tak perduli. Dia bahkan dengan sukarela akan membersihakan kamar mandi kalau diminta. “Terima kasih,” kata Mitchie sambil memeluk ibu lalu ayahnya. “Terima kasih, terima kasih banyak!”
Mata Mitchie melebar ketika melihat pemandangan melakui jendela mobilnya. Ibunya mengemudikan mobil van melewati sebuah papan petunjuk besar di pintu masuk perkemahan yang bertuliskan, CAMP ROCK. Setelah turun dari mobil, Mitchie melihat mobil – mobil SUV mewah berhenti di bagian penerimaan tamu. Pondok-pondok sederhana bertebaran di sekitar area perkemahan. Para peserta kemah dan para pembimbing berseliweran. Di leher mereka tergantung papan nama yang menyerupai tanda masuk backstage.
Sepanjang pengamatan Mitchie, agaknya para peserta kemah telah mulai membentuk kelompok-kelompok: anak-anak punk rock gothic telah menemukan sesamanya, begitu pula dengan para pengikiut hip hop, emo, cewek-cewek, music keras, heavy metal, country, tentu saja rock. Satu kelompok telah mengeluarkan lembaran music & menyanyi secara akapela. Kelompok yang lain memainkan alat music mereka bersama-sama. “Apakah kau senang?” Tanya Connie. “Agak sich… ah ya, seneng banget, kok,” Mitchie mengaku.
Perhatian Mitchie tertumbuk pada sosok cewek yang baru keluar dari limosin. Cahaya menerpa rambut pirang yang panjang itu manakala dia berbicara di ponselnya yang bertabur berlian. Dua orang asisten membongkar koper bermerek desainer dari bagasi limo. Mulut Mitchie ternganga. Jadi itulah Ratu Lebahnya Camp Rock. Tak lama kemudian ibuku berhasil mendapatkan tanda masuk backstage ke konser Shane.
Hidup Tess nampaknya memang hamper sempurna. Ibunya, T.J Tyler, telah merajai tangga lagu lebih sering dari yang diingat oleh Tess. Bahkan di rumah mereka ada ruang khusus Grammy untuk semua penghargaan yang telah diterima oleh T.J. Pondok yang akan ditempati oleh Mitchie dan ibunya sangat sederhana. Mitchie melempar tas ranselnya ke tempat tidur terdekat dari pintu, lalu dia berpaling kea rah ibunya. “Sudah beres,” katanya dengan cepat.
Tapi yang menjawab bukan ibunya, melainkan seorang laki-laki dari luar pondok. “Bagus,” kata suara itu. Dengan penasaran, Mitchie dan Connie memerhatikan seorang rocker yang telah berumur, berambut cepak, memakai celana jins belel dan kaos lusuh, memasuki pondok. “Brown Cesario,” kata laki-laki itu sambilmengulurkan tangan. Direktur kemah, merangkap pendiri kemah, merangkap pemain bass dari grup Wet Crows.
Para peserta kemah berkumpul di tempat yang menyerupai stadion mini yang menjorok ke bawah, untuk acara pembukaan resmi Camp Rock. Saat menunggu, seorang cowok yang bernama Andy memukul-mukul bangku dengan stik drumnya membuat sebuah irama. Peserta yang lain satu per satu mulai ikutan, meningkahi dengan beat, tarian dan nyanyian.
Mitchie, yang baru sampai, memandang dengan takjub. Belum pernah dia melihat orang berbakat sebanyak ini berkumpul di satu tempat! Karena tidak memerhatikan jalan, tanpa sengaja dia menabrak Tess. Kemudian ada sesosok wanita yang menyapanya dia bernama Caitlyn. Ketika mereka sedang mengobrol,obrolan mereka terganggu oleh suara ketuka mikrofon. Pengarah music Camp Rock yang sangat bersemangat itu telah naik panggung. Semuanya terdiam. “Hai, semuanya!” sapanya ceria. “Namaku Dee La Duke.”
“Hai, Dee,” serempak peserta yang hadir menyapa, agar kurang bersemangat. “Ah-ha. Disini, di Camp Rock kita, BERYANYI!!!!!!!!!!”
Dee berteriak dengan suara melengking tinggi. “Jadi ayo ulangi,” katanya, sambil menempelkan telapak tangannya ke telinga. “Haiiiii, Dee,” para peserta bernyanyi menirukannya. Dee tersenyum senang. “Bagus. Agak sumbang di beberapa bagian, tapi kita akan memperbaikinya sebelum acara Pagelaran Final.”Saat Dee menyebut kompetisi menyanyi di malam terakhir Camp Rock itu, para peserta bersorak dengan riuh. Barron James, cowok berusia lima belas tahun yang terkenal jahil & Sander Loya, sahabat sekaligus partner jahilnya mulai membuat bunyi-bunyian dengan spontan.
Sementara itu, pada saat yang bersamaan, instruktur “istimewa” yang disebut-sebut itu juga sangat kaget. “Aku nggak mau menyia-nyiakan musim panasku di perkemahan!” sembir Shane Gray pada Nate dan Jason, rekan pemain band-nya, Connect Three. Tak diragukan lagi, Shane adalah seorang superstar. Tapi dia terlihat sangat depresi. Dia harus menerima kenyataan pahit bahwa seiring dengan popularitasnya, dia juga mengalami tekanan. Dia bahkan tak bisa menikmati pemandangan indah yang terbentang di luar kaca jendela limonnya.
Tess beserta golongannya mengajak Mitchie untuk pindah ke pondok mereka. Tess menggigit kukunya yang dimanikur sambil mondar-mandir di dalam Pondok Vibe dan menunggu ponselnya yang masih belum tersambung. Di atas tempat tidurnya, Peggy memetik gitar asal, sementara Ella juga sedang melakukan sesuatu yang tak kalah penting yaitu mengecat kuku. Pada saat Mitchie memasuki pondok sambil menyandang ransel dan gitarnya di bahu. “Hai, teman-teman!” sapanya dengan terngengah-engah karena habis berjalan jauh. “Dimana tempat tidurku?”
Tess menunjuk tempat tidur Peggy. Tanpa perlawanan lagi. Peggy pasti akan pindah. Mitchie melempar tasnya ke atas tempat tidur dan mulai membongkarnya. Saat Mitchie mengeluarkan jurnal lagunya, lalu cepat-cepat menyembunyikannya. Tapi Peggy terlanjur melihatnya. “Itu buku harianmu, ya?” Sejenak Mitchie merasa ragu. “Buku laguku,” akhirnya dia mengaku.
“Kamu nulis lagu?” Tanya Tess, sambil menghempaskan diri di atas tempat tidur Mitchie.
“Iya, tapi kayaknya nggak terlalu bagus, sih.”
“Aku berani bertaruh pasti bagus!” jerit Peggy. “Ayo nyanyiin satu lagu!” Sesaat dia menyanyika lagu terbarunya. Karena malu, dia menghentikan nyanyiannya setelah tiga bait. “Nggak bagus,kan?” katanya sambil memalingkan wajah. Peggy menatap Mitchie seolah-olah gadis itu sudah gila. “Apa? Itu keren banget, tahu! Benarkan, Tess?”
“Iya, keren banget,” Tess menyetujui dengan suara semanis kue pai. Lalu dia mengembalikan buku itu kepada Mitchie kelihatan nggak rela.
Hari masih pagi sekali dan cahaya fajar yang lembut baru mulai menerobos celah di dinding Pondok Vibe. Di luar, suasana hening, yang terdengar hanyalah suara kicau burung. Keheningan itu dipecahkan oleh suara dering alaram jam Mitchie. Sambil meraba-raba ke bawah bantal untuk mematikan alaram, dia memandang sekelilingnya. Ella bergerak sedikit tapi kembali terlelap. Melihat situasi aman, Mitchie bangkit dari tempat tidur, menyambar pakaian lalu mulai berjinkat-jingkat melewati teman-temannya yang sedang tidur. Ketika keluar dari pondok, Mitchie langsung menuju dapur. Ada pekerjaan yang harus dilakukannya.
Sesaat kemudian, barisan anak-anak yang kelaparan memenuhi ruangan makan. Mitchie menyelinap keluar dari pintu belakang tanpa ketahuan, lalu berjalan memutar ke depan dan bergabung dengan antrian yang sudah tak sabaran itu. Ketika memasuki ruangan yang besar, dia mencari-cari sebuah tempat duduk di antara kerumunan. Akhirnya dia berhasil menemukan tempat kosong.
Beberapa hari hari berlalu, lama-kelamaan Tess mencurigai Mitchie telah menyembunyikan sesuatu darinya. Kemudian Tess mengikuti Mitchie kemanapun dia berjalan, selalu diikuti. Tetapi Tess tidak mengajak para dayang - dayangnya. Setelah mengikuti Mitchie berhari – hari, Tess pun mengetahui bahwa Mitchie bukanlah anak dari orang yang kaya raya melainkan anak kepala koki yang bernama Connie Torres di perkemahan itu.
Akhirnya, waktu yang dinanti-nanti telah tiba, yaitu Pagelaran Final. Di seluruh area kemah, terdengar suara nyanyian, rap, hentakan drum dan berbagai alat musik antara lain gitar, keyboard, terompet, biola, violin, saxsphone. Di semua tempat, kecuali dapur, Mitchie dan Caitlyn sibuk dengan tugasnya yaitu mengisi botol saus. Seolah-olah hukuman kehilangan kesempatan untuk tampil di Pagelaran Final belum cukup saja!
Di luar, para orang tua telah tiba, disambut oleh pelukan dan teriakan-teriakan “Kau bisa datang” dan “Kenapa lama sekali?” Tess berdiri diluar lobi yang riuh, mencari-cari ibunya dengan penuh harap. “Tess,” kata Dee, mendatanginya dari arah belakang. “Ma?” Tess berbalik sambil tersenyum lebar. Senyum itu menghilang seketika begitu Dee yang dilihatnya. “Tiga puluh menit lagi acara akan dimulai,” dia mengingatkan dengan lembut.
“Iya,” kata Tess. Dia menggantikan wajah kecewanya dengan sebuah senyum lebar yang dipaksakan. Lagi pula, dia harus tampil dalam sebuah pertunjukan. Di dalam kamarnya, Shane juga bersiap-siap untuk Pagelaran Final. Dia sedang memakai jaketnya seketika terdengar suara ketukan pintu. Sesaat kemudian, pintu terbuka. Nate & Jason menyeruak masuk. “Hei, sobat,” kata Nate. “Tebak siapa?” Jason menambahakan. Shane berhenti untuk memandang rekan-rekannya sebelum akhirnya menjawab. “Kalian ada di dalam. Aku bisa melihat kalian.”
Jason tersenyum. Shane memeluk erat kedua temannya. Dia merindukan saat-saat bersama bandnya itu. Tapi setelah mala mini, mereka bisa bersama-sama lagi. “Jadi, ada kabar baik,” kata Nate setelah Shane melepaskan pelukannya. “Para wartawan ada di sini dan mereka akan meliput pagelaran malam mini,” dia membuat berita utama khayalan dengan kedua tangannya. “Perusahaan rekaman kita pasti menyukainya.” Shane mengangguk. Dia sama sekali nggak kaget. Perusahaan rekaman pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan publisilitas. “Mana penyanyi yang hebat yang kau cari-cari itu?” tanya Jason. Shane memelototinya. Bagaimana Jason bisa tahu soal gadis bersuara misterius itu?
“Apa?” tanya Jason sambil mengangkat bahu. “Aku tahu, lho.”
Shane tersenyum. Teman-temannya selalu punya cara untuk mengejutkan dirinya. “Semoga malam ini aku bisa menemukannya,” katanya, sebelum berbalik lalu meninggalkan pondok.
Namun sayang ‘suara’ itu tidak ada saat Pagelaran Final. Mitchie duduk di tepi danau bersama Caitlyn, sambil melempar batu yang kemudian melempar batu yang kemudian menimbulkan bunyi plung yang keras. Dengan marah Caitlyn menekan sebuah tombol di laptopnya lalu music pun mulai bergaung lewat pengeras suaranya. “Seharusnya ini menjadi musim panas yang menyenangkan untuk bermain musik,” kata Mitchie sambil melemparkan sebutir batu lagi. Kekecewaan jelas tergambar dalam suaranya. “Dan yang kudapatkan hanyalah terjebak dalam drama Tess.”
“Memang itu yang terjadi,” Caitlyn menghela napas. “Aku nggak pernah melihat Brown sekeras itu.” Mitchie mengangguk. Laki-laki itu sangat tegas. “Dia Cuma mengulang-ulang ‘sampai Pagelaran Final selesai ….’ Kata Mitchie, sambil menirukan direktur perkemahan itu. Brown berdiri di atas panggung teater Pagelaran Final sambil memandang kerumunan orang tua dan para peserta kemah. Dee dan beberapa konselor lain membagikan tongkat cahaya, menambahkan suasana meriah yang menyenangkan. Ini akan jadi malam yang luar biasa. Brown berdehem lalu mulai berpidato, “Baiklah, para peserta kemah, para teman, keluarga, fans Camp Rock ini dia. Mala mini, sejarah music akan dibuat saat Camp Rock memilih pemenang Pagelaran Final yang baru!”
Semua aksi, suara telah dikeluarkan oleh para peserta. Tak lama kemudian Mitchie menyanyi dan Caitlyn muncul di sayap panggung untuk memaikan music. Semua andrenalin yang terpompa dalam nadi Mitchie langsung menguap seketika begitu dia berjalan ke tengah panggung dan melihat penonton. Para peserta kemah, para orang tua, Shane bahkan pers melihatnya dan menunggunya. Di sudut matanya, dia melihat Caitlyn memulai musiknya. Tapi saat Mitchie membuka mulut hendak bernyanyi, dia tak mampu melakukannya.
Caitlyn cepat-cepat mengulang awal lagu. Mitchie menarik napas dalam-dalam dan akhirnya mulai menyanyi pelan. “Lebih keras lagi,” bisik Caitlyn. Tapi Mitchie sangat gugup, dan dia berusaha keras untuk mengingat liriknya. Dia menatap penonton, dan melihat ibu dan ayahnya di sana. Dia pun mulai menyanyi dengan lantang. Lalu dia melihat Shane, dan suaranya terus meninggi sampai maksimal dan kuat. Sambil memejamkan mata, Mitchie menyanyikan lagunya dengan kuat dan jernih. Dia menyanyikan apa yang selama ini sulit diungkapkannya dengan kata-kata kalau dirinya jauh lebih berarti dari kelihatannya, dan kalau dia telah menemukan mimpinya dan dia tak akan pernah melepaskannya lagi.
Dewan juri pun telah memutuskan pemenang Pagelaran Final Camp Rock. Dengan berdebar-debar Brown mengumumkan. Pemenangnya adalah…. “Margaret Dupree” alias Peggy… Semua orang yang ada di Pagelaran itu bersorak gembira. Semua itu diakhiri dengan acara Pagelaran Bebas!”
“Ayo kita mulai!” Dee berteriak.
Suara berbagai jenis music memenuhi udara. Ada rock ‘n roll, pop, R&B, reggae, country, opera, musik daerah dan heavy metal. Semuanya bergabung menjadi satu, sama seperti Camp Rock. Para peserta kemah langsung memenuhi panggung, tak terkecuali Mitchie & Shane. Pesertanya sudah di mulai, dan mereka berdua berdiri di tengah-tengah pesta, sambil menari dan menyanyi bersama. Saat music mengalun di sekeliling mereka, Shane menunduk dan mencium pipi Mitchie. Sambil tersipu malu, Mitchie tahu satu hal dengan pasti. CAMP ROCK memang hebat.

Kenalkan, namaku "Reza Rizky Toding La'bi"
Aku biasa disapa Echa atau Chacha
Umurku 13-thn dan bersekoLah di SMPN 1 BANYUWANGI
Sekarang SMPN 1 Banyuwangi sudah menjadi sekolah RSBI
Aku senang sekali dapat bersekoLah disini, selain favorit, fasilitas yang disediakan oleh SMPN 1 Bwi sangat membantu proses belajar mengajar.. :)
Semoga SMPN 1 BWI selalu menjadi favorit dare sekolah yang lainnya...
Inie merupakan lambang SMPN 1 BANYUWANGI

Sekitar 2 bulan ini, SMPN 1 telah menyelesaikan pembangunan musholla yang sangat indah..

8F memiliki wali kelas yang bernama Bu. Susilowati
GALERI fotoQ & friends ^_^
Ini foto saya bersama Bu. Susi pada saat kegiatan SUMPAH PEMUDA, yang dilaksanakan oleh SMPN 1 Bwi pada tanggaL 28 Oktober 2009
Nie wktu lg sibuk"x acara SUMPAH PEMUDA


Sekitar 2 bulan ini, SMPN 1 telah menyelesaikan pembangunan musholla yang sangat indah..

Sekarang aku telah berada di kelas delapan, tepatnya 8 F, kelas yang sangat hancur, luchu, aneh, konyol, tolol, pinter, suka gotong royong, cantik-cantik, banyak yang ganteng, kemudian kelas ini sangat menghormati orang yang lebih tua...
8F memiliki wali kelas yang bernama Bu. Susilowati
GALERI fotoQ & friends ^_^
Ini foto saya bersama Bu. Susi pada saat kegiatan SUMPAH PEMUDA, yang dilaksanakan oleh SMPN 1 Bwi pada tanggaL 28 Oktober 2009
Nie wktu lg sibuk"x acara SUMPAH PEMUDA

Persiapan mw diniLai hasiL karyax...
Nie hasiL karyaQ brsama kawan2 8_eph.. :)
indahkan???? itu sudah pasti...
Nie hasiL karyaQ brsama kawan2 8_eph.. :)indahkan???? itu sudah pasti...
diatas nie mRupakan Universitas impiaN q, udH lama bgtzzzzzz.......Aq berharap sMoga bisa masuk ke Universitas Cambridge ini ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)
Facebook Badge
Reza Rizky Toding La'bi
Always smiLe :)
Labels
- Liburan (1)
- Musim Panas (1)











































